Fhoto: Menu "Sesuka Hati" Dapur SPPG Gajah Sakti 1: Wali Murid SDN 29 Mandau Protes Keras Standar Gizi Program MBG. (Red)

MANDAU – Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi tumpuan perbaikan gizi anak bangsa kini menuai polemik tajam di Kabupaten Bengkalis. Orang tua murid SDN 29 Mandau, melalui perwakilan wali murid bernama Broto, melontarkan kritik pedas terhadap pengelolaan menu oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gajah Sakti 1 di bawah naungan Yayasan Tijarotan Lantabur Indonesia.


Menu yang disajikan diduga jauh dari standar gizi nasional dan dituding dikelola "sesuka hati" tanpa mempertimbangkan komposisi pangan seimbang. Berdasarkan pantauan, menu yang diberikan hanya berupa paket makanan ringan dan kering yang dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi harian siswa sekolah dasar.


Menanggapi gelombang protes tersebut, Kepala SPPG Gajah Sakti, Debi Gustian, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp mengatakan. Ia berdalih bahwa menu yang dipersoalkan tersebut adalah untuk jatah dua hari dan berdalih pada kondisi pasar yang tidak stabil.


"Buah sedang mahal, 500 ribu per keranjang. Barang pada kosong, buah langka, kalaupun ada itu buah impor yang harganya mahal," ujar Debi saat dikonfirmasi media.

Fhoto: rincian harga MBG per item. (Red)

Pihak pengelola bahkan memerinci harga per item yang dinilai "tak wajar" untuk ukuran program subsidi pemerintah, di antaranya, Roti Manis: Rp6.000, Kentang Mustofa: Rp4.000, Abon Sapi: Rp3.700, Kelengkeng: Rp4.600, Yogurt Stik: Rp2.500, Kurma: Rp2.000 dan Edamame: Rp1.200.


Kata Debi, menyebutkan abon sapi seharga Rp240.000/kg sebagai menu utama pengganti protein segar memicu tanda tanya besar. Sesuai pedoman Badan Gizi Nasional, menu MBG seharusnya mengacu pada prinsip "Isi Piringku" yang mengutamakan protein hewani segar, sayuran, dan sumber karbohidrat kompleks, bukan makanan olahan kering atau roti manis semata.


Ketimpangan antara anggaran yang digelontorkan dengan realita "menu kering" di lapangan ini memicu desakan agar instansi terkait melakukan audit menyeluruh terhadap SPPG Gajah Sakti 1. Masyarakat menuntut transparansi pengelolaan dana agar program MBG tidak hanya menjadi ladang bisnis bagi pihak pengelola, tetapi benar-benar sampai ke perut siswa dalam bentuk gizi yang berkualitas.


Hingga berita ini diturunkan, wali murid mendesak adanya evaluasi total terhadap yayasan pengelola guna memastikan anak-anak mereka mendapatkan hak gizi yang layak sesuai standar pemerintah.


(Red)