Fhoto: Rig Electric 350 HP PDSI Perkuat Efisiensi Pengeboran Blok Rokan, Teknologi Joystick Jadi Andalan. (Red)

DURI – PT Pertamina Drilling Service Indonesia (PDSI) terus mendorong efisiensi operasi pengeboran di wilayah Blok Rokan, Duri, melalui penggunaan rig elektrik berkapasitas 350 horsepower (HP).


Rig ini mengusung sistem kendali elektrik berbasis joystick dan konsep on wheel yang dirancang untuk mempermudah mobilisasi dari satu sumur ke sumur berikutnya.


Teknologi tersebut diperkenalkan dalam kegiatan induction and safety briefing di area operasi PHL–Rig PDSI Malaban Point 1, Selasa (29/9/2026). Dalam kegiatan itu, aspek keselamatan dan penerapan prinsip Zero Incident menjadi perhatian utama.


HFO Rig Site Manager PT PDC, Rezi Citra R., menegaskan keselamatan menjadi prioritas dalam setiap aktivitas operasi.


“Target utama operasi kami adalah operasi yang selamat. Harapannya setiap hari tidak terjadi cedera dan seluruh personel dapat bekerja serta kembali ke rumah dengan selamat,” ujarnya.


Project Leader PDSI, Andi Faisal, menjelaskan PDSI menyiapkan empat unit rig 350 HP dengan spesifikasi serupa. Salah satunya Rig 58 yang dilengkapi kendali joystick elektrik dan sistem roda untuk mendukung mobilisasi.


Rig memiliki ketinggian sekitar 110 feet dan dilengkapi sejumlah perangkat utama pengeboran, antara lain mud pump, mud tank, shaker, desander, desilter, sistem pemisah gas hingga Blowout Preventer (BOP). Kebutuhan listrik didukung tiga unit genset Cummins dan dikendalikan melalui drilling console.


Rig Manager PDSI, Tesar Ramadani, mengatakan teknologi tersebut diarahkan untuk mempercepat perpindahan antarsumur.


Untuk jarak 0–4,9 kilometer, waktu perpindahan ditargetkan sekitar 1,5 hari, sedangkan jarak hingga 10 kilometer sekitar dua hari. Secara keseluruhan, waktu perpindahan ditargetkan dapat ditekan hingga sekitar 30 jam, menyesuaikan kondisi lapangan.


PDSI juga menerapkan metode early moving, yakni mempersiapkan sebagian proses perpindahan sebelum pekerjaan di sumur selesai, selama tidak mengganggu peralatan pengendalian sumur. Metode ini disebut berpotensi menghemat waktu hingga sekitar 36 jam dalam satu siklus pekerjaan.


Dari sisi operasional, rig baru menggunakan konfigurasi yang lebih sederhana dibandingkan rig sebelumnya yang membutuhkan sekitar tiga crane. Jumlah personel juga dibuat lebih ramping dengan tetap mengacu pada SOP dan aspek keselamatan.


Sementara itu, Asisten Manager Drilling Operation HO 2, Kristanto Wibowo, menyebut satu kegiatan pengeboran hingga mencapai target membutuhkan sekitar tujuh hingga delapan hari dengan kedalaman sekitar 800 feet atau 240 meter.


Namun, kedalaman pengeboran belum otomatis menunjukkan keberadaan minyak. Indikasi hidrokarbon tetap harus dievaluasi melalui proses logging.


“Belum tentu dapat (minyak). Nanti ada penilaian atau biasanya kita sebut logging. Dari logging itu kita bisa melihat di kedalaman berapa minyak itu ada dan seberapa dalam,” jelasnya.


Sejak mulai beroperasi pada Mei, aktivitas pengeboran dengan rig tersebut disebut telah mencapai sekitar 40–50 sumur, bergantung pada kondisi dan kecepatan pekerjaan masing-masing sumur.


Dari sisi kenyamanan lingkungan kerja, rig elektrik juga disebut memiliki tingkat kebisingan lebih rendah dibandingkan rig mekanikal konvensional.


“Rig ini termasuk yang silent. Kalau rig konvensional yang mekanikal mungkin suaranya lebih terdengar. Ini sudah elektrik, jadi lebih bagus dan lebih tenang,” kata Kristanto.


Penggunaan sistem elektrik juga dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi bahan bakar karena jumlah mesin penggerak lebih sedikit sekaligus berpotensi mengurangi emisi CO2.


Meski mengandalkan teknologi baru, PDSI tetap menempatkan kesiapan sumber daya manusia sebagai bagian penting dalam pengoperasian. Pabrikan turut dilibatkan dalam proses persiapan dan pendampingan awal.


“Tantangannya yang pertama terkait dengan orang. Orangnya juga kita persiapkan sebaik-baiknya. Kita melibatkan pabrikan untuk menjelaskan bagaimana alat ini bekerja,” ujar Kristanto.


Menurutnya, teknologi dan sumber daya manusia harus berjalan beriringan agar penggunaan rig dapat berlangsung optimal.


“Teknologi sama orang itu harus menyatu. Dari sisi teknologinya ada, orangnya kita tetap terus improve,” pungkasnya.


(Red)