![]() |
| Fhoto: Sebut Media 'Sampah' Usai Beritakan Kecelakaan Sang Adik, Oknum Ketua Komisi DPRD Bengkalis Tuai Kecaman. (Red) |
DURI – Gelombang kemarahan melanda kalangan jurnalis di Kota Duri menyusul arogansi yang ditunjukkan oleh oknum Ketua Komisi I DPRD Bengkalis, Tantowi. Bukannya memberikan klarifikasi secara santun, wakil rakyat tersebut justru menyerang wartawan dan melabeli media massa dengan sebutan "Media Sampah" usai insiden kecelakaan yang menimpa adiknya.
Peristiwa ini bermula ketika mobil yang ditumpangi oleh Wakil Ketua II DPRD Bengkalis, Hendrik Firnanda Pangaribuan, terlibat kecelakaan lalu lintas di jalur lintas Pakning, tepatnya di Desa Parit 1, Api-api, Kecamatan Bandar Laksamana, pada Selasa (31/3/2026) siang sekitar pukul 11.42 WIB.
Pasca-kejadian, sejumlah media lokal menjalankan fungsi kontrol sosialnya dengan memberitakan peristiwa tersebut. Namun, respons yang didapat justru sangat tidak menyenangkan dan dinilai mencederai kebebasan pers.
Tantowi, yang merupakan kakak kandung dari Hendrik Firnanda, langsung melayangkan serangan verbal secara personal kepada jurnalis pantauriau.com, Handana, melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp.
"Kau rasa betul berita kau tu," tulis Tantowi dengan nada mengintimidasi.
Arogansi oknum legislator tersebut tidak berhenti di situ. Melalui status WhatsApp pribadinya, pria yang akrab disapa Tanto ini secara terbuka mengunggah tulisan yang memicu amarah para kuli tinta: "Media Sampah, Kalau Gak Tau Fakta, Jangan Buat Berita".
Tindakan intimidasi verbal ini sontak memicu reaksi keras di grup-grup komunikasi wartawan di wilayah Duri dan Bengkalis. Para jurnalis mengutuk keras sikap antikritik dan tidak beretika yang dipertontonkan oleh seorang pejabat publik.
"Kalau begitu bahasanya, apa pantas dia disebut sebagai dewan yang terhormat?" tegas CEO Riau24jam.com, Robby Leonardo, menyayangkan sikap emosional sang legislator.
Saat dikonfirmasi lebih lanjut mengenai maksud istilah "Media Sampah" tersebut, jurnalis Handana justru kembali mendapatkan pesan yang membingungkan sekaligus bernada ancaman terhadap profesinya.
"Dia bilang simpan aja kartu kuning itu baik-baik ya. Ini sudah sangat keterlaluan dan tidak mencerminkan sikap seorang pejabat daerah," ungkap Handana dengan raut wajah penuh kekecewaan.
Hingga berita ini dirilis, belum ada permohonan maaf ataupun keterangan resmi dari Ketua Komisi I DPRD Bengkalis terkait motif penyerangan verbal dan penghinaan terhadap profesi wartawan tersebut. Komunitas pers di Bengkalis kini tengah mempertimbangkan langkah lanjutan atas perlakuan tidak menyenangkan ini.
(Red)


0Komentar